
Gebrakan ESDM: CNG 3 Kg Pengganti LPG Siap Meluncur, Harga Jauh Lebih Murah!
Jakarta - Kabar gembira bagi masyarakat Indonesia! Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru saja mengungkap rencana besar pemerintah terkait masa depan bahan bakar rumah tangga. Pemerintah tengah mematangkan proyek Compressed Natural Gas (CNG) kemasan 3 kg yang diproyeksikan akan hadir sebagai alternatif pengganti "gas melon" atau LPG 3 kg. Menariknya, harga jual CNG 3 kg ini dipastikan akan jauh lebih ramah di kantong masyarakat.
Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Bahlil menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar wacana, melainkan strategi makro untuk menekan beban subsidi energi negara yang kian membengkak, tanpa harus mengorbankan kebutuhan rakyat kecil.
Lalu, seberapa besar selisih harga CNG dibandingkan LPG konvensional? Menurut kalkulasi Kementerian ESDM, harga CNG 3 kg dipatok lebih murah sekitar 30% hingga 40% dibandingkan harga LPG di pasaran saat ini. Fakta ini tentu menjadi info penting (FYP material) bagi ibu rumah tangga maupun pelaku UMKM yang sangat bergantung pada gas bersubsidi.
Bahlil turut membeberkan proyeksi penghematan kas negara dari program ini. Saat ini, total beban subsidi energi pemerintah berada di angka yang sangat tinggi, yakni antara Rp 86 triliun hingga Rp 90 triliun. Jika program CNG ini sukses mengalihkan sekitar 25% dari total konsumsi gas masyarakat, maka efisiensi yang didapatkan negara sangat masif.
"Dengan asumsi harga 30% lebih murah, negara berpotensi menghemat anggaran subsidi sebesar Rp 27 triliun hingga Rp 30 triliun. Dana efisiensi puluhan triliun ini nantinya bisa kita alokasikan kembali untuk pembangunan sektor lain yang lebih krusial," tegas Bahlil.
Meski menawarkan harga jual yang sangat menggiurkan, pemerintah tidak mau gegabah meluncurkan produk ini. Saat ini, pemerintah masih mengawal ketat proses uji coba tahap ketiga terhadap tabung CNG 3 kg sebelum diproduksi masal dan dipasarkan.
Faktor keselamatan publik menjadi harga mati. Hal ini wajar mengingat tabung CNG memiliki karakteristik tekanan gas yang sangat ekstrem, yakni menembus angka 200 hingga 250 bar.
"Oleh karena itu, kita harus sangat ekstra hati-hati. Jika uji coba tahap ketiga yang ditargetkan selesai pada Juli 2026 ini sukses dan aman, baru implementasinya segera kita eksekusi," tambah Bahlil.
Bagi masyarakat yang khawatir akan kerepotan saat bermigrasi ke CNG, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman telah memberikan jaminan kemudahan. Skema distribusi CNG 3 kg nantinya akan menduplikasi persis sistem distribusi LPG yang sudah berjalan. Artinya, penyaluran akan tetap melibatkan agen dan pangkalan di bawah jaringan PT Pertamina.
Laode juga menjawab kekhawatiran terbesar publik: Apakah masyarakat harus merogoh kocek untuk membeli tabung CNG baru? Jawabannya adalah Tidak!
Pemerintah akan menerapkan sistem tukar-isi (swap). Seluruh tabung CNG 3 kg yang beredar adalah aset milik badan usaha penyedia. "Masyarakat tidak perlu membeli tabungnya. Polanya, masyarakat tinggal membawa tabung kosong ke pangkalan dan menukarnya dengan yang terisi. Sangat praktis," jelas Laode.
Sebagai langkah awal peluncuran, pemerintah terpaksa harus mengimpor kebutuhan tabung CNG bertekanan tinggi ini dari China. Keputusan taktis ini diambil murni karena fasilitas manufaktur di dalam negeri saat ini belum siap secara teknologi untuk memproduksi tabung dengan spesifikasi 200-250 bar secara massal.
Kehadiran CNG 3 kg sebagai energi substitusi ini diprediksi akan menjadi game changer di sektor energi rumah tangga Indonesia. Lewat harga yang ekonomis dan sistem distribusi yang identik dengan LPG, era baru gas murah tampaknya akan segera terealisasi dalam waktu dekat!
Dikutip dari sumber berita:
Bahlil Ungkap Harga CNG 3 Kg Bakal Lebih Murah Ketimbang LPG, Berapa?